2 min read

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hi, saya Ekky. Klik disini untuk membaca secuil tentang saya.

Kali ini saya akan berbagi sedikit tentang alasan memulai proyek blog ini. Proyek ini sebenarnya proyek yang timbul tenggalam karena beberapa kali sudah pernah dijalankan tapi gagal karena ya...males untuk menulis. Tetapi setelah makin banyak membaca buku/artikel/tulisan apapun dan mendengarkan kajian ilmu. Saya menyadari satu hal, bahwa sangat penting untuk meningkatkan keilmuan diri sampai akhir hayat. Saya sadar, ilmu bagaikan lautan yang tidak bertepi dan layaknya air laut, makin diminum akan semakin haus dan haus lagi.

Pertanyaan yang muncul "Apa yang harus saya lakukan ?". Hmmmm... Tentu saja menambahkan ilmu dari berbagai macam sumber terpercaya dan berusaha menerapkannya. Nah proses ini salah satunya saya lakukan melalui proyek blog ini. Harapannya simpel, bisa berani berbagi pikiran dan menerima pikiran lain yang kadang sejalan atau malah berlawanan arah.

Perbedaan itu mungkin menakutkan bagi sebagian orang, termasuk saya dulu. Tapi pemikiran itu berubah ketika salah satu teman saya (semoga Allah merahmati beliau) menceritakan tentang dua orang ahli ilmu yakni Imam Syafi'i dan guru beliau Imam Malik. Keduanya berdebat perihal rizki, Imam Syafi'i berpendapat bahwa "rizki harus dijemput dengan ikhtiar baru akan didapatkan" sedangkan guru beliau Imam Malik berpendapat bahwa "rizki itu sudah ditentukan oleh Allah, maka rizki akan datang tanpa sebab. cukup bertawakal kepada Allah, Allah akan memberikan rizki tersebut".

Suatu ketika, Imam Syafi'i melihat petani anggur yang sedang panen dan menghampiri untuk membantunya. Setelah panen selesai Imam Syafi'i diberikan beberapa ikat anggur sebagai balas jasa telah membantu. Imam Syafi'i lalu bergegas menemui gurunya Imam Malik. Setelah bertemu, Imam Syafi'i memberikan anggur itu kepada Imam Malik sebagai hadiah sambil menceritakan kejadian yang dialami. Imam Syafi'i berkata "Seandainya saya tidak membantu petani anggur itu (bentuk ikhtiar), saya tidak akan mendapatkan anggur ini". Imam Malik tersenyum mendengar hal itu sembari mengambil anggur untuk dimakan, lalu berkata "saya seharian di pondok ini untuk mengajar, kemudian ditengah hari yang panas ini saya berpikir, alangkah enaknya jika ditengah hari ini bisa menikmati anggur. Tiba-tiba kamu datang dan memberikan anggur ini kepadaku. Bukankah ini bentuk rizki yang datang tanpa aku melakukan sesuatu (tanpa sebab)".

Guru dan murid itu kemudian terdiam dan tertawa bersama. Alangkah indahnya kisah dua orang berilmu tersebut yang sama-sama saling menghormati perbedaan pendapat diantara mereka.

Semoga Allah memberikan taufik dan pertolongannya agar saya dapat menulis sesuatu yang bermanfaat dan jauh dari kesia-siaan. Doakan pula saya agar konsisten ditengah kesibukan aktivitas pribadi saya ya.hehe

Wallahualam..

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ekky Novriza Alam

Ekky Novriza Alam

I'm lecturer @telkomuniversity and part-time programmer